Olahraga bagi sebagian orang adalah sebuah kebutuhan. Mereka percaya, olahraga dapat meningkatkan derajat kesehatan secara bermakna. Hal ini pula yang selalu dianjurkan dokter kepada pasiennya. Tujuannya tak lain membantu penyembuhan penyakit yang sedang diderita.
Sayangnya, banyak orang berolahraga sekadar berkeringat atau lelah semata. Padahal, cara itu malah menimbulkan masalah baru dalam kesehatan, bahkan dapat membahayakan jiwa.
Untuk menjelaskan persoalan itu muncullah layanan kesehatan yang terbilang baru, namanya sport therapy. Adalah Dr. Michael Triangto, Sp.KO, yang memberikan layanan terapi olahraga ini kepada pasiennya.
Kata Dr. Michael, demikian spesialis kedokteran olahraga untuk PB PBSI tahun 1994-2006 ini biasa disapa, sport therapy adalah cara untuk mencegah dan membantu proses penyembuhan penyakit dengan olahraga yang disesuaikan kondisi pasien. Selain itu, disesuaikan juga dengan keadaan kesehatan, komposisi lemak dan otot tubuh, metabolisme, serta kemampuan tubuh untuk melakukan olahraga.
Kata dokter lulusan spesialis kedokteran olahraga FKUI ini, prioritas utama sport therapy adalah membantu pengobatan penyakit yang disebabkan kurangnya aktivitas. Sebut saja diabetes melitus, hipertensi, kolesterol tinggi, dan obesitas.
Gangguan jantung juga salah satu penyakit yang mendapat manfaat dari sport therapy. Hal ini karena latihan yang dilakukan akan meningkatkan stabilitas muatan listrik pada otot jantung, sehingga mengurangi kemungkinan terjadinya serangan jantung.
Terapi ini juga memungkinkan terjadinya peningkatan aliran darah, baik melalui proses pelebaran pembuluh darah maupun terbentuknya kolateral, yakni pembuluh-pembuluh darah baru yang akan menjamin terjadinya oksigenasi jaringan yang baik. Penyakit lainnya yang dapat dibantu kesembuhannya dengan sport therapy adalah osteoporosis (keropos tulang) dan skoliosis (perubahan bentuk tulang belakang yang berbentuk huruf C atau S, akibat cedera, gangguan perkembangan tulang, atau faktor keturunan).
Jika pada pengobatan konvensional dilakukan pemberian obat dan pengaturan dosis, pada sport therapy selalu diawali pemeriksaan keadaan kemampuan fisik pasien dalam menghadapi tekanan, seperti saat berolahraga. Setelah itu, baru diatur dosis latihan, yakni intensitas, durasi, dan jenis olahraga yang dianjurkan. Caranya, dengan memantau, membatasi, dan meningkatkan denyut jantung yang disesuaikan kemampuan individu.
Denyut Jantung
Menurut Dr. Michael, Anda yang berusia 17 tahun tentu memiliki jantung yang juga berusia 17 tahun. Seorang kakek berusia 70 tahun tentu saja jantungnya berusia sama. Dengan demikian, tak mungkin seorang kakek berolahraga dengan dosis latihan sama dengan Anda yang berusia 17 tahun.
Dijabarkan anggota tim medis kontingen Indonesia di Olimpiade Sydney 2000 ini, setiap individu harus mempunyai dosis latihan sendiri sesuai kemampuan. Sama dengan obat, dosis latihan untuk anak berbeda dengan orang dewasa. Dosis latihan untuk orang sehat pun tidak sama dengan untuk penderita diabetes.
Pada sport therapy, yang menjadi obat adalah olahraga itu sendiri. Karena itu, pasien harus mendapat perlakuan sama dengan penggunaan obat, yakni masing-masing memiliki kegunaan dan dosis unik. Olahraga pada sport therapy yang kurang atau berlebihan akan memberikan hasil yang tidak diharapkan. Sport therapy, katanya, bukan sekadar mencari keringat atau prestasi dalam olahraga seperti yang telanjur dilakukan banyak orang.
Untuk itu, tahap awal sport therapy yang ditawarkan selalu menggunakan acuan denyut jantung. “Banyak orang merasa melakukan olahraga yang terpenting adalah memiliki otot-otot dan tulang kuat. Padahal, yang menjadi motor tubuh adalah jantung. Jantung merupakan pompa paling efisien, yang mampu memompa darah ke seluruh tubuh secara terus-menerus tanpa henti, melalui pembuluh darah ke otot-otot dan tulang. Jika kerjanya terlalu berat hingga tak lagi mampu memenuhi kebutuhan otot, lambat laun kerja jantung akan terganggu.
Akhirnya otot dan tulang tak mampu lagi bergerak,” papar pria kelahiran Jakarta, 28 Oktober 1959 ini.
Menurutnya, penting untuk mengetahui keadaan dan kemampuan jantung sebelum mulai melakukan latihan olahraga. Denyut jantung satu-satunya indikator objektif tentang tingkat kemampuan tubuh berolahraga. Bila bergantung pada indikator subjektif, seperti rasa lelah, pegal, dan berkeringat, mungkin bisa membahayakan diri kita.
Cara menghitung denyut jantung, cukup menggunakan jari telunjuk dan jari tengah. “Rabalah pergelangan tangan pada sisi yang lain secara ringan, jangan ditekan terlalu kuat. Lebih mudah meraba denyut nadi pada pergelangan tangan di bawah ibu jari. Lokasi lain yang juga cukup mudah untuk dicari adalah denyut nadi di leher yang letaknya di bawah rahang,” katanya.
Hitung jumlah denyut nadi dalam 1 menit atau dalam 10 detik, yang hasilnya dikalikan 6, atau dalam 15 detik, hasilnya dikalikan 4. Dr. Michael mengingatkan semakin sedikit waktu yang dipakai untuk menghitung denyut nadi, kemungkinan kesalahannya semakin besar. Karena itu, ia menganjurkan pasien untuk menghitung denyut nadi selama 1 menit, agar penghitungannya lebih akurat.
Untuk mempermudah pemantauan denyut jantung, di kliniknya, ia menggunakan heart rate monitor bagi pasiennya. Alat ini dapat memantau denyut jantung secara terus-menerus. Bahkan, selama melakukan gerakan, Anda tidak akan merasakan keterbatasan gerak.
Alat ini terdiri atas dua bagian, yakni detektor denyut jantung, yang juga berfungsi sebagai transmiter, diletakkan di dada pada daerah jantung. Bagian lainnya berupa monitor kecil diletakkan di pergelangan tangan, yang juga berfungsi sebagai jam tangan.
“Heart rate monitor dapat menetapkan batas bawah dan batas atas denyut jantung pasien yang akan dilatih. Batas bawah dan atas adalah batasan jumlah denyut jantung minimal dan maksimal yang dianjurkan saat seseorang melakukan sport therapy,” ujarnya.
Batas itu, tambahnya, juga dapat mencegah bahaya yang terjadi akibat olahraga berlebihan, semisal serangan jantung. Alat itu juga dilengkapi dengan alarm yang akan berbunyi bila batas bawah belum terlampaui atau batas atas telah terlewati.
Mirip Gym
Katanya, rumus untuk menghitung denyut jantung latihan adalah denyut jantung maksimal: 220 dikurangi usia dalam tahun. Semisal, Anda berusia 17 tahun, denyut jantung maksimal adalah 220-17 = 203 denyut/menit. Seorang kakek berusia 70 tahun, 220-70 =150 denyut/menit. Setelah itu barulah ditentukan berapa persen dosis latihan. Biasanya dosis latihan antara 60-90 persen dari denyut jantung maksimal.
Di kliniknya, terdapat alat-alat latihan beban dan latihan jantung, paru, seperti di gym, seperti treadmil, sepeda statis, stepper, dan cross trainer. Terapi ini, kata Dr. Michael, bisa dilakukan di mana saja, dengan alat seadanya dan oleh siapa saja. Cukup bermodalkan motivasi kuat dan pengetahuan tentang prinsip sport therapy, Anda pun akan siap melakukannya.
Garis besar terapi ini, mulanya tentukan tujuan latihan. Selanjutnya buat parameter yang menjadi acuan sejauh mana keberhasilan latihan terapi ini. Semisal denyut nadi istirahat yang lebih rendah, tekanan darah yang lebih stabil, atau kolesterol darah yang lebih baik. Bila tidak mempunyai alat heart rate monitor, cara termudah adalah belajar menghitung denyut nadi sendiri, yang dilakukan pada daerah pergelangan tangan atau di daerah leher.
Berikutnya, pilih jenis latihan aerobik, seperti jalan cepat (bagi kelompok pemula atau individu yang jarang berolahraga). Untuk Anda yang secara teratur berolahraga, dapat berlatih aerobik sport therapy dengan joging ataupun lari. Bagi yang mempunyai masalah persendian atau proses penyembuhan cedera, Dr. Michael menyarankan untuk bersepeda statis, berenang, atau dayung.
Ia juga mengingatkan, selama berlatih, kita harus tetap menghitung denyut nadi. Hal ini untuk mencegah jangan sampai latihan menjadi tidak berguna sama sekali karena denyut nadi tidak pernah mencapai zona latihan. Sebaliknya, jika latihan terlalu berat untuk tingkat kemampuan jantung, batas maksimal dari zona latihan akan terlampaui. Bila itu yang terjadi, tujuan latihan tidak akan tercapai, bahkan bisa membahayakan.
Selanjutnya, bila latihan telah terlampaui bisa dilakukan proses pendinginan. Pada fase ini pun denyut nadi tetap perlu dihitung agar kecepatan penurunan denyut nadi dapat dipantau.
“Dengan berlatih secara teratur, masa pemulihan denyut nadi akan turun lebih cepat ke denyut nadi istirahat. Setelah berlatih selama beberapa minggu, denyut nadi istirahat secara bertahap akan turun. Keadaan inilah yang menunjukkan adanya perbaikan kerja jantung ke arah yang lebih sehat,” paparnya.
Berapa biaya yang harus dikeluarkan untuk program sport therapy, Dr. Michael enggan menyebutkan. Anda yang ingin lebih sehat dengan sport therapy disarankan datang ke kliniknya, untuk dibuatkan program latihan.
@ Hendra Priantono
Tuesday, March 25, 2008
Subscribe to:
Posts (Atom)